Review Film Final Destination: Bloodlines – Horor Seru dan Penuh Twist
![]() |
| Sumber: IMDb.com |
Ringkasan Tanpa Spoiler
Final Destination: Bloodlines masih jadi tontonan seru, apalagi kalau kamu ngikutin waralaba ini sejak 2000. Setelah 14 tahun jeda dari film terakhirnya, Bloodlines muncul sebagai “penyatu benang merah” yang terasa seperti salam penutup manis minimal untuk fase cerita yang sudah dibangun lebih dari dua dekade.
Kali ini pendekatannya beda. Naskah Guy Busick dan Lori Evans Taylor menggeser fokus: Death tidak lagi mengejar orang random yang “lolos” dari maut, melainkan satu keluarga sebuah garis keturunan yang, kalau ditarik mundur, mungkin “tak seharusnya” ada. Alhasil, tensi khas Final Destination bercampur drama keluarga yang bikin emosi lebih “nempel”.
Baca Juga: Review The Curse of La Llorona: Turunnya Kualitas Horor Conjuring
Opening yang “Nagih” & Cara Film Menjaga Tensi
Dari pembuka, film langsung nyeret kita ke masa lalu, menegaskan bahwa Death masih “merapikan” daftar yang seharusnya selesai. Rangkaiannya rapih: banyak false alarm sengaja ditebar, bikin kita lega sedetik… lalu bam, momen kematian terjadi. Timing-nya pas, build-up-nya sabar, dan payoff-nya memuaskan. Jujur: ini salah satu opening terkuat di waralaba.
Benang Merah & Sentuhan Emosional (Tony Todd FTW)
Salah satu highlight ada di “momen pamit” Tony Todd sebagai William Bludworth emosional, beresonansi, dan akhirnya memberi konteks yang selama ini bikin penasaran. Bloodlines juga cukup lihai menyambung titik-titik ke film lama, sehingga fan lama bakal sering angguk-angguk paham.
Karakter & Chemistry: Pendukung Mencuri Panggung
Komedinya efektif. Erik Campbell (Richard Harmon) yang usil dan Bobby Campbell (Owen Patrick Joyner) yang polos jadi penyegar ritme, seringkali “mencuri” fokus dari protagonis Stefani Reyes (Kaitlyn Santa Juana). Bahkan Iris (Gabrielle Rose/Brec Bassinger) terasa lebih memorable. Catatan penting: tokoh utama terkesan terlalu datar dibanding karisma para pendukungnya.
Adegan Kematian, Humor, dan Teknis
Formula “deg-degan, lega, terpukul” masih jalan. Namun, di babak akhir, beberapa kematian terasa kurang “mencekam sehari-hari” (kurang rasa “ini bisa kejadi ke gue”), sebagian karena CGI yang lebih dominan. Ironisnya, kematian-kematian paling nempel justru ada di paruh awal. Untungnya pacing tetap gesit berkat selingan humor gelap yang tak menguapkan tensi.
Baca Juga: Review The Nun II: Teror Baru di Semesta The Conjuring
Putusan Akhir
Final Destination: Bloodlines adalah paket tegang + komedi gelap yang tetap fun, meski klimaksnya kurang sangar dibanding pembuka. Ending relatif ketebak, tapi journey-nya menghibur. Sebagai “benang penutup” fase panjang, film ini memuaskan, walau bukan yang paling “traumatis” di waralaba.
Skor: 8/10. Fan lama bakal pulang puas; penonton baru tetap bisa menikmati tanpa harus maraton, meski referensi lama tentu bikin pengalaman lebih kaya.
FAQ – Final Destination: Bloodlines
1. Apakah ini lanjutan dari seri sebelumnya?
Ya, ini film keenam dan tetap terhubung dengan entri lama, termasuk referensi karakter klasik.
2. Perlu nonton film sebelumnya dulu?
Tidak wajib, tapi lebih seru kalau paham easter egg (khususnya terkait William Bludworth).
3. Apa yang bikin beda?
Fokus ke satu keluarga (garis keturunan), bukan sekumpulan orang acak, nuansanya lebih drama keluarga + horor.
4. Seberapa seram?
Babak pembuka paling intens; beberapa kematian di akhir terasa lebih bergantung CGI dan kurang “membekas”.
5. Ada komedi?
Ada. Erik & Bobby sering jadi pemecah tegang dengan komedi yang tetap selaras tone film.
6. Penampilan para pemain?
Tony Todd dapat momen pamit yang emosional. Richard Harmon & Owen Patrick Joyner mencuri perhatian; karakter utama (Stefani) terasa kurang menonjol.
7. Worth it di bioskop?
Kalau kamu suka sensasi tegang + humor gelap khas waralaba, ini tetap layak layar lebar.
