BREAKING NEWS

Review Film Orang Ikan: Misteri, Horor, dan Legenda dari Dasar Laut

Review Film Orang Ikan Misteri, Horor, dan Legenda dari Dasar Laut
Review Film Orang Ikan. (Credit: IMDb)

Orang Ikan (2025) itu semacam film horor-aksi yang dibikin bareng-bareng sama beberapa rumah produksi dari negara berbeda, Gorylah Pictures, Zhao Wei Films, dan Infinite Studio. Serunya, film ini ngegabungin mitologi Melayu dengan setting Perang Dunia II, jadi auranya unik banget. Mike Wiluan yang duduk di kursi sutradara, dan durasinya sekitar 85 menit. Terinspirasi dari Creature from the Black Lagoon (1954), film ini ngehadirin suasana pulau terpencil di Indonesia yang kerasa misterius dan nyeremin.

Walaupun budget-nya kecil, film ini tetap berhasil kasih teror yang cukup nempel dan karakter-karakternya juga lumayan bikin penasaran. Tapi ya, namanya juga film, ada beberapa kekurangan yang kerasa di sana-sini. Nah, pertanyaannya: film ini worth it buat ditonton nggak sih? Yuk, kita bahas lebih lengkap di ulasan berikut!

Baca Juga: Review Film Agak Laen (2024), Komedi Horor Segar Bikin Ngakak

Pertarungan Sengit dengan Latar Pemandangan Indah

Di Orang Ikan, kamu bakal nemuin banyak adegan kejar-kejaran yang vibe-nya mirip sama film monster klasik kayak Predator (1987). Ketegangannya makin dapet berkat scoring mencekam dari Akihiko Matsumoto. Adegan-adegan pengejaran di hutan dan area perairan juga dibuat intens banget, apalagi dengan sinematografi Asep Kalila yang bisa nangkep suasana Curug Sodong, Sukabumi indah tapi tetap bikin merinding.

Salah satu adegan yang paling nempel itu waktu si Orang Ikan berdiri di atas tebing, kayak mau nunjukkin, “Ini wilayah gue!” Pengambilan gambarnya keren, ditambah efek visual dari Fajrul Fadillah yang bikin scene itu makin kuat. Walaupun CGI di pulau nggak banyak, kostum rancangan Allan B. Holt dan animatronik yang digerakkan Alan Maxson bikin wujud makhluknya terasa nyata dan serem banget.

Baca Juga: Review Film Siksa Kubur, Horor Indonesia Bikin Merinding

Perpaduan Mitologi, Sejarah, dan Nilai-Nilai Kemanusiaan

Film Orang Ikan ngangkat mitologi Melayu tentang makhluk amfibi yang katanya pernah terlihat sama tentara Jepang di era 40-an, lalu dibungkus dengan latar Perang Dunia II. Ceritanya sendiri ngeikutin dua tokoh utama: Saito (Dean Fujioka), seorang tentara Jepang, dan Bronson (Callum Woodhouse), tawanan perang dari Inggris, yang tiba-tiba terdampar di sebuah pulau misterius.

Hubungan mereka awalnya kayak bom waktu penuh curiga dan siap saling bunuh kapan aja. Tapi makin lama, mereka sadar kalau musuh sebenarnya bukan satu sama lain, tapi makhluk yang ngintai mereka di pulau itu. Dari situ, mereka mulai bekerja sama, dan proses bonding-nya malah bikin beberapa momen jadi lucu. Salah satu yang paling ngena itu waktu Saito salah nyebut nama dan manggil, “Blonson,” yang bikin penonton otomatis ngakak. Ujung-ujungnya, hubungan mereka berubah kayak bromance yang nggak direncanakan.

Pertarungan mereka baik saat duel satu sama lain ataupun saat akhirnya lawan si makhluk juga digarap brutal abis. Beberapa adegan yang nunjukin keganasan Orang Ikan mungkin keliatan sadis, tapi ya wajar sih, soalnya makhluknya digambarin kayak hewan liar yang buas. Apalagi film ini memang ditujukan buat penonton 17 tahun ke atas (D17+), jadi ada baiknya dipertimbangkan dulu sebelum nonton.

Baca Juga: Review Sore: Istri dari Masa Depan (2025), Romansa Unik

Perlu Nonton Orang Ikan atau Lewatin Aja?

Orang Ikan cocok banget buat kamu yang suka film monster ala klasik, terutama yang lebih mengutamakan efek praktikal ketimbang CGI yang lebay. Salah satu daya tarik utamanya jelas ada di desain makhluknya badannya tinggi gede, kulitnya bersisik kasar, giginya tajam, dan tampilannya bener-bener bikin merinding. Ditambah lagi akting Dean Fujioka dan Callum Woodhouse yang solid, bikin ketegangan dan emosi karakternya kerasa nyata. Nonton mereka dikejar-kejar pun bikin kita ikut deg-degan pengin cepat kabur dari si Orang Ikan.

Dari sisi visual, film ini juga punya banyak momen cakep. Latar air terjun bertingkat, hutan yang rapat, sama sungai yang deras bikin pulau itu terlihat indah sekaligus menyeramkan. Sayangnya, ada satu hal yang agak ganggu: editing-nya kurang mulus. Karena terlalu banyak close-up dan potongan cepat saat adegan konfrontasi, baik lawan Orang Ikan maupun sesama manusia, jadinya kita nggak bisa menikmati adegan aksinya secara utuh.

Nggak cuma soal teknis aja, alur ceritanya kadang juga kerasa patah-patah. Beberapa bagian jalan ceritanya tipis banget, meskipun di ujungnya ditutup dengan sentuhan emosional. Karena itu, keseluruhan filmnya mungkin nggak terasa sepenuh dan sememuaskan yang diharapkan. Walaupun begitu, film ini tetap punya nilai plus karena berhasil nyampurin mitologi lokal, potongan sejarah, dan elemen monster klasik di tengah suasana pulau yang seperti “surga tersembunyi.”

Buat kamu yang suka horor monster dengan vibe nostalgia, apalagi yang suka latar cerita Indonesia, Orang Ikan ini tetap jadi tontonan yang cocok banget.

Posting Komentar