BREAKING NEWS

Review Film The Salesman (2016): Kisah Dilema Moral dan Trauma yang Menggugah

Review Film The Salesman (2016)
Credit: IMDb

Mau bahas The Salesman (2016) karya Asghar Farhadi? Film ini seru banget buat diulik karena bukan cuma drama keluarga biasa, tapi juga punya lapisan cerita tentang luka batin, rasa ingin balas dendam, sampai soal harga diri manusia. Gak heran kalau akhirnya film ini berhasil bawa pulang Oscar 2017 sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik.

Asghar Farhadi, sutradara asal Iran yang sebelumnya bikin A Separation (2011) dan About Elly (2009) lagi-lagi nunjukin kepiawaiannya meramu drama penuh konflik moral. Dalam The Salesman, kita diajak mengikuti perjalanan Emad dan Rana, pasangan yang hidupnya berubah gara-gara insiden yang bikin mereka harus berhadapan dengan rasa marah dan trauma.

Yang bikin nempel di kepala itu bukan cuma ceritanya, tapi cara Farhadi ngasih perspektif tentang bagaimana orang mencoba mencari keadilan versi mereka sendiri. Intinya, film ini cocok banget buat kamu yang suka drama psikologis dengan makna moral kuat yang setelah nontonnya, kamu bakal mikir panjang.

Baca Juga: Review Film The Last of Us S2: Babak Tengah Penuh Kejutan

Alur Singkat Film The Salesman (2016)

Ceritanya berawal dari Emad (Shahab Hosseini) dan Rana (Taraneh Alidoosti), pasangan suami-istri yang terpaksa ninggalin apartemen lama karena bangunannya bermasalah. Mereka akhirnya dapet tempat baru, tapi ternyata unit itu dulu dihuni seseorang dengan masa lalu yang agak “abu-abu”, jadi dari awal aja udah bikin suasana sedikit aneh.

Suatu malam, terjadi kejadian yang bikin Rana trauma berat. Dari situ, hubungan mereka perlahan jadi renggang, bukan cuma soal luka fisik, tapi rasa aman dan kepercayaan dalam pernikahan mereka ikut goyah.

Yang bikin makin rumit, Emad yang awalnya lembut dan pengertian mulai berubah. Dia jadi kaku, emosian, dan kepikiran terus buat ngejar pelaku kejadian itu. Sampai akhirnya dia sendiri kebingungan, sebenarnya dia lagi cari keadilan atau cuma nurutin rasa marahnya aja.

Baca Juga: Review Film Bad Times at the El Royale: Misteri dan Kekacauan

Pembahasan Ide Pokok Cerita

1. Keadilan vs Balas Dendam

Di film ini, Farhadi kayak ngajak kita mikir: kalau kita jadi korban, apa wajar pengen balas, atau tetap harus nurut sama proses hukum? Emad sendiri kebawa ke situasi serba bingung—sebagai suami dia merasa harga dirinya diinjak, tapi di sisi lain ada sisi manusiawi yang bikin dia ragu apakah balas dendam itu memang solusi atau cuma bikin luka makin panjang.

2. Trauma dan Psikologi Korban

Lewat sosok Rana, film ini nunjukin gimana pengalaman buruk yang dialami seorang perempuan bisa ngefek panjang, bukan cuma secara emosional tapi juga ke hubungan sama pasangan. Rasa takut, merasa kotor, sampai nggak berani ngomong soal kejadian itu bikin situasi dalam rumah tangga makin tegang dan sulit diselesaikan.

3. Martabat dan Kehormatan

Dalam konteks budaya Timur Tengah, urusan kehormatan keluarga tuh sering dianggap hal yang super penting. Emad pun ngerasa harga dirinya “jatuh”, jadi makes sense kalau keinginan buat balas dendam makin kuat. Tapi lewat alurnya, Farhadi seolah ngajak kita mikir ulang: bener nggak sih martabat seseorang cuma bisa “dipulihkan” lewat aksi balas dendam? Atau justru ada cara lain yang lebih manusiawi?

Baca Juga: Review Film Good Will Hunting: Drama Jenius Penuh Haru

Karakter Utama dan Kualitas Aktingnya

Emad (Shahab Hosseini) - Shahab Hosseini ngegambar Emad sebagai laki-laki yang awalnya lembut dan sayang banget sama istrinya, tapi makin ke belakang karakternya berubah karena rasa sakit yang dialami Rana. Ekspresi emosinya kerasa banget sampai bikin penonton ikut kebawa perasaan antara marah, sedih, sekaligus bingung harus dukung tindakan Emad atau enggak.

Rana (Taraneh Alidoosti) - Peran Taraneh Alidoosti sebagai Rana juga gak kalah kuat. Dia berhasil nunjukin sosok perempuan yang rapuh tapi tetap berusaha bertahan meski diguncang kejadian traumatis. Karakter Rana jadi seperti suara para penyintas yang terluka, bukan cuma dari sisi fisik tapi juga mentalnya.

Baca Juga: Review Top Gun: Maverick: Aksi Dogfight Ganas dan Nostalgia 80-an

Penyutradaraan Asghar Farhadi

Asghar Farhadi punya ciri khas tersendiri yaitu sederhana, realistis, dan penuh percakapan yang bikin kita ikut tenggelam dalam konfliknya. Bahkan tanpa banyak musik atau teknik kamera yang heboh, suasana tegangnya tetap kerasa. Dia kayak ngajak penonton ikut duduk di dalam masalah para karakternya, tanpa perlu nunjukin adegan kekerasan yang vulgar.

Pesan Tersirat dalam The Salesman (2016)

Yang bikin film ini makin dalam adalah pemilihan naskah teater Death of a Salesman sebagai latar cerita mereka. Karya Arthur Miller itu kan penuh isu soal kegagalan dan runtuhnya harapan hidup dan itu nyambung banget sama apa yang dialami Emad dan Rana. Jadi seolah apa yang terjadi di atas panggung, pelan-pelan juga “nular” ke kehidupan nyata mereka, sampai batas antara drama dan realitasnya jadi samar.

Baca Juga: Review Tron: Ares, Ketika Teknologi CGI Jadi Bintang Utama Filmnya

Deretan Penghargaan dan Ulasan Positif

The Salesman sendiri dapat respons super positif dari para kritikus di berbagai negara. Film ini sampai bawa pulang Oscar 2017 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik yang otomatis makin ngangkat nama Asghar Farhadi di kancah perfilman dunia.

Di Cannes 2016, film ini juga sukses banget karena dapet penghargaan Skenario Terbaik, plus Shahab Hosseini dapat penghargaan Aktor Terbaik lewat perannya sebagai Emad.

Media besar juga banyak kasih ulasan manis. Mulai dari Variety, The Guardian, sampai situs penilaian film kayak Rotten Tomatoes yang ngasih skor tinggi (lebih dari 90%). Intinya, bukan cuma penonton yang suka, tapi para kritikus pun mengakui kualitas film ini.

Hal Menarik dan Sisi Kurang dari The Salesman (2016)

Kelebihan

  • Ceritanya rapih banget, dialognya juga terasa penuh makna.
  • Akting para pemeran utama bener-bener total, terutama Emad dan Rana.
  • Meskipun setting-nya di Iran, isu yang dibahas terasa dekat dan relevan di mana pun.
  • Nuansa realistisnya bikin kita ikut hanyut dalam konflik moral para karakternya.

Kekurangan

  • Alurnya berjalan pelan, jadi mungkin kurang cocok buat penonton yang butuh hiburan cepat dan ringan.
  • Ada penonton yang mungkin merasa “digantung” karena film ini gak kasih jawaban moral yang tegas.

Apa Pelajaran yang Bisa Kita Ambil?

Pada dasarnya film ini mau bilang kalau hidup gak selalu sesederhana benar atau salah. Balas dendam mungkin terasa melegakan sebentar, tapi belum tentu menyelesaikan apa pun.

Film ini juga ngajak kita lebih peka sama pengalaman korban trauma, dan nyadarin bahwa keadilan itu gak selalu identik dengan hukuman yang keras.

Posting Komentar