BREAKING NEWS

Review Film Gowok Kamasutra Jawa Rahasia Tradisi dan Pesan Berani

Informasi Film

JudulGowok: Kamasutra Jawa
SutradaraHanung Bramantyo
PemeranRaihaanun, Devano Danendra, Alika Jantinia
GenreDrama Sejarah, Thriller, Dewasa (21+)
ProduksiMVP Pictures

Saat pertama kali mendengar judul Gowok: Kamasutra Jawa, jujur saja dahi saya sempat berkerut. Judulnya terasa begitu "berani" dan seolah-olah hanya menjual sensualitas semata. Namun, asumsi tersebut seketika runtuh saat saya menyelami karya terbaru dari sutradara kondang Hanung Bramantyo ini.

Hanung ternyata tidak sedang bermain-main dengan eksploitasi; ia justru menyajikan sebuah narasi yang kompleks, mencampurkan elemen sejarah, tradisi, hingga isu-isu sosial yang masih relevan hingga detik ini. Film yang naskahnya digarap bersama ZZ Mulja Salih ini merupakan sebuah eksperimen genre yang cukup ambisius di kancah perfilman Indonesia.

Di balik kemasan drama dewasa yang cukup kental, terselip jalinan cerita thriller, sentuhan budaya yang magis, serta semangat feminisme yang membara. Ini bukan sekadar film tentang edukasi seksual masa lampau, melainkan sebuah refleksi atas posisi perempuan dalam struktur sosial Jawa pasca-kemerdekaan.

Mengenal Tradisi Gowok dalam Sejarah Jawa

Salah satu nilai plus utama dari film ini adalah bagaimana tim penulis memperlakukan subjek utamanya: profesi Gowok. Bagi masyarakat modern, istilah ini mungkin terdengar asing atau bahkan berkonotasi negatif. Namun, Hanung berhasil memberikan "klarifikasi" budaya yang sangat dibutuhkan.

Gowok di sini tidak ditampilkan sebagai objek pemuas nafsu, melainkan sebuah profesi yang memiliki landasan filosofis mendalam dalam menyiapkan pria muda menuju gerbang pernikahan. Penjelasan mengenai profesi ini disampaikan dengan sangat organik, mengajak penonton memahami mengapa tradisi ini eksis dan berdampingan dengan literatur klasik seperti Serat Centhini.

Tanpa menggurui, film ini perlahan-lahan mengubah perspektif penonton terhadap ilmu "gowokan". Meski bagi mereka yang kurang akrab dengan istilah budaya Jawa mungkin akan menghadapi tantangan dalam mencerna dialog teknisnya, secara keseluruhan alur ceritanya tetap mudah diikuti.

Ciri Khas "Hanung Banget" dalam Isu Sensitif

Jika Anda mengikuti rekam jejak Hanung Bramantyo, Anda akan menyadari kegemarannya menyentuh isu-isu sensitif dalam sejarah Indonesia. Dalam Gowok: Kamasutra Jawa, elemen tersebut terasa sangat kental. Saya berani menggolongkan film ini ke dalam daftar karya yang "Hanung Banget", sejajar dengan film-filmnya yang berani menabrak pakem normatif.

Menariknya, film ini terasa seperti "saudara spiritual" dari Tuhan, Izinkan Aku Berdosa (2023). Meskipun disutradarai oleh seorang pria, kedua film ini membawa napas feminisme yang cukup kuat. Hanung tampak berusaha lebih tegas dalam menentukan posisinya terkait isu-isu abu-abu yang melibatkan perempuan pada masa itu, meskipun di beberapa bagian, fokus cerita terasa sedikit melebar dari tema "Gowok" yang dijanjikan di awal.

Chemistry Membara Alika Jantinia dan Devano Danendra

Visi sutradara yang kuat tentu tidak akan berarti tanpa performa aktor yang mumpuni. Untungnya, jajaran pemain dalam film ini memahami betul pesan tersirat di balik setiap adegan. Sorotan utama saya jatuh pada duet Alika Jantinia dan Devano Danendra.

Keduanya adalah "nyawa" yang menghidupkan api dalam film ini. Chemistry yang mereka bangun terasa sangat nyata penuh gairah sekaligus emosional. Ada kontras yang menarik antara kepolosan asmara pemuda era 50-an dengan keberanian mereka mengeksekusi adegan-adegan yang menantang secara fisik dan mental. Keberanian Alika dan Devano dalam beradu peran layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya.

Kualitas Produksi dalam Perpaduan Artistik Megah dan Detail Teknis

Dari sisi desain produksi, Hanung sekali lagi membuktikan totalitasnya. Set properti, tata rias, hingga wardrobe berhasil membangun atmosfer masa lalu yang sangat autentik, mengingatkan saya pada ambisinya dalam film Bumi Manusia (2019).

Namun, sebagai penonton yang jeli, saya memiliki beberapa catatan kecil:

  • Detail Properti: Beberapa set tampak "terlalu baru", kurang sentuhan aging agar terlihat benar-benar berasal dari dekade tersebut.
  • Logika Geografis: Ada detail lokasi gubuk di tengah sungai yang secara logika terasa kurang pas karena mencirikan jalur lahar aktif, yang mungkin sedikit mengganggu imersi penonton yang kritis.
  • Visual Efek (CGI): Sayangnya, kualitas CGI masih terasa kaku dan out-of-date. Di era teknologi maju, ini menjadi rapor merah yang tampaknya belum sepenuhnya diperbaiki sejak karya Hanung sebelumnya.
  • Color Grading: Dominasi warna kuning yang sangat pekat terkadang menenggelamkan keindahan alami sinematografinya. Alih-alih kesan vintage, saturasi ini terkadang justru melelahkan mata.

Apakah Film Gowok Layak Ditonton?

Secara keseluruhan, Gowok: Kamasutra Jawa adalah sebuah karya yang berani secara tema dan menarik secara narasi. Hanung Bramantyo membuktikan dirinya sebagai pencerita yang tahu cara memanfaatkan kekuatan dialog intim (pillow talk) untuk menggerakkan plot cerita.

Meskipun ada kekurangan di sisi teknis visual, film ini tetap berdiri tegak sebagai karya yang menawarkan kedalaman budaya dan pesan pemberdayaan perempuan yang kuat. Bagi Anda yang mencari tontonan yang memicu diskusi tentang tradisi dan identitas, film ini wajib masuk dalam daftar tontonan Anda.

Rating Pribadi: 7.5/10

Posting Komentar